PEKANBARU (RP) - Wakil Presiden Republik Indonesia, Boediono menilai
ajang Pekan Paralympic Nasional XIV Provinsi Riau tidak hanya sebagai
ajang mengukir prestasi olahraga, tetapi juga memiliki esensi positif
sebagai ajang memupuk nilai-nilai kemanusiaan.
‘’Untuk keduakalinya, Riau menjadi tuan rumah iven olahraga berskala nasional.
Setelah
PON dilaksanakan dengan sukses. Malam ini, kita akan membuka perhelatan
kedua, yaitu Peparnas XIV di Riau,’’ ujar Wapres dalam opening ceremony
Peparnas di Sport Center Rumbai, Ahad (7/10).
Menurutnya, para
atlet dari seluruh kontingen yang datang dari seluruh penjuru Tanah Air
merupakan atlet terbaik yang siap mengharumkan nama kontingen dan
daerahnya. Peparnas juga menjadi ajang untuk saling mengenal, saling
mengerti dalam memupuk persaudaraan dan persatuan.
‘’Selain itu,
Peparnas XIV juga memiliki makna positif dalam meningkatkan nilai
semangat hidup, teguh dan semangat memperoleh yang terbaik dalam
menjalankan kehidupan.
Mereka adalah yang berhasil dalam menghadapi tantangan hidup,’’ papar Boediono memberikan motivasi kepada para atlet.
Lebih
jauh dia menambahkan, nilai kemanusian lain yang dapat dipetik adalah
komitmen mengedepankan semangat kejujuran, sportivitas dan jiwa satria
untuk mencapai prestasi terbaik.
‘’Ini bagian dari spirit
kemanusiaan. Pecahkan rekor baru, sehingga dapat menjadi kebanggaan bagi
kontingen dan daerah. Tiada kata menyerah pada keadaan. Kekurangan dan
hambatan sama sekali tidak mematikan semangat Anda. Terimalah salut dan
rasa hormat saya yang tinggi,’’ papar Wapres.
Dalam kesempatan
tersebut, dia juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Riau yang
telah melaksanakan amanah nasional dan menjadi tuan rumah yang baik.
‘’Saya
sampaikan pengharagaan yang setinggi-tingginya atas kesedian Riau
melaksanakan tanggung jawab nasional ini. Terima kasih atas kerja keras
dan kontribusi seluruh pihak yang telah menyukseskan acara nasional.
Kepada masyarakat Riau saya mengucapkan terima kasih atas keramahan yang
telah diberikan. Semoga kenangan manis di Riau tetap melekat di hati
kita semua,’’ ungkap Wapres yang disambut tepuk tangan dan riuh puluhan
ribu masyarakat dan atlet yang hadir dari berbagai pelosok daerah di
Indonesia.
Sementara itu, Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP
mengatakan ajang Peparnas menjadi rangkaian penting, bukan hanya untuk
olahraga nasional. Tetapi juga berperan dalam memperkokoh persatuan dan
kesatuan di Indonesia.
‘’Kami beserta komponen masyarakat Riau
mengucapkan selamat datang kepada Wapres Boediono ke Bumi Melayu Lancang
Kuning. Bulan lalu, Riau mendapat kehormatan menjadi tuan Rumah PON,
Alhamdulillah, berlangsung sukses. Ini merupakan kebanggaan kedua
kalinya bagi masyarakat Riau sebagai tuan rumah Peparnas XIV,’’ papar
Gubri.
Dia menambahkan, dengan pelaksanaan PON dan Peparnas
menjadi ajang membangkitkan Riau yang terus berbenah hampir di semua
sektor kehidupan.
Ini terwujud dengan perkembangan infrastruktur dan sarana yang bertaraf internasional di Bumi Melayu Lancang Kuning.
Peparnas
kali ini mengambil tema ‘’Dengan Prestasi Olahraga, Kita Tingkatkan
Peran Paralimpian dalam Mengangkat Harkat dan Martabat. Selain itu juga
meningkatkan persatuan dan kedamaian. Baik di tingkat lokal, nasional
hingga internasional’’.
Merangkak, Yasin Sulut Api Peparnas
Proses
penyalaan api tersebut juga memerlukan perjuangan, sebab Yasin, si
pembawa api ke kaldron setinggi 3 meter tersebut merupakan pelatih tenis
kursi roda Riau. Namun ia harus merangkak ke puncak kaldron.
Semangat
juang Yasin mendapat aplaus dari seluruh penonton pada pembukaan
Peparnas, Ahad (7/10) di Stadion Kaharuddin Nasution. Penyalaan api di
kaldron menjadi puncak rangkaian acara yang dinikmati sekitar 20 ribuan
penonton. Ditambah 5 ribuan atlet, pelatih dan ofisial.
Kobaran
api masih nyata hingga seluruh penonton bubar pada pukul 22.00 WIB malam
tadi, dimana acara dimulai pukul 19.00 WIB. Yasin yang menyalakan api
dengan merangkak tanpa bantuan kursi rodanya.
Ia harus menaiki
satu persatu tangga. Ia menerima api yang diambil dari sumur minyak
pertama Minas tersebut dari paralympian lainnya.
Pemandangan tersebut menjadi bagian dari pembukaan ajang olahraga terbesar bagi penyandang cacat yang disebut paralympian.
Seremoni
pembukaan acara utama, malam tadi diawali dengan penampilan karya
lokal. Diawali dengan tari persembahan. Lalu dilanjutkan dengan
tari-tarian dari seniman Riau. Lewat karya, ‘’Di Bawah Matahari Tak Ada
yang Sempurna’’.
Penampilan yang sarat dan kental dengan budaya
Melayu tersebut menyajikan penampilan ratusan penari dengan
kerlap-kerlip di atas kepalanya ditambah dengan warna-warni ondel-ondel
melekat sebentuk topi.
Sebelum sajian seniman Riau tersebut,
lebih dulu ada penampilan dari beberapa penyanyi difabel yang notabene
anak-anak menghibur dengan lagu yang dipopulerkan D’masiv, berjudul
‘’Jangan Menyerah’’.
Sebelum defile kontingen provinsi peserta,
yang dimulai dengan kontingen Aceh. Diawali dengan tim Paskibraka yang
membawa bendera merah putih, bendera NPC dan bendera provinsi peserta
Peparnas XIV.
Acara puncak malam tadi adalah penyalaan api
Peparnas yang diambil dari sumur minyak pertama Minas. Seperti PON,
acara puncak tersebut dilakukan oleh empat paralympian Riau. Mereka
membawa api dengan cara estafet. Diawali dengan paralympian yang (maaf)
tidak memiliki tangan.
Lalu dilanjutkan dengan paralympian
lainnya. Sebelum tiba di atlet lain yang sudah menunggu di tangga
kalderon. Atlet berkursi roda tersebut turun dari tempatnya dan membawa
api yang diterima dengan cara beringsut, tangga demi tangga untuk
kemudian menyalakan api di kalderon.
Perjuangan dan usahanya
untuk sampai ke puncak kalderon menaiki tangga sekitar 3 meter tersebut
mendapat aplaus dari seluruh pengunjung yang hadir. Kobaran api Peparnas
di kaldron mengakhiri acara resmi sebelum Wapres RI, Boediono
menginggalkan tempat. Rangkaian open ceremony Peparna XIV Riau ditutup
dengan pesta kembang api berdurasi selama 5 menit. (egp/rio)
Suguhan
berbagai acara hiburan diawali dengan penampilan Sagu Band menjadi
tontotan tersendiri bagi para penonton. Meskipun tak sedikit pula
penonton yang beranjak meninggalkan lokasi acara.
Tapi kehebohan dan kemeriahan masih tampak hingga berbagai penampilan pengisi acara.
Seperti
sesudah penampilan Sagu Band kemarin dengan lagu andalannya.
Dilanjutkan penampilan Mara Karma yang mengguncang dengan lagu dangdut.
Berturut-turut
diisi oleh penampilan dari Charlie (mantan vokalis ST 12) bersama Setia
Band dan pedangdut ibu kota, Ike Nurjanah. Para pengisi acara yang
tampil di panggung, sontak membuat seluruh penonton di tribun turun
mendekat ke panggung, memenuhi lapangan Stadion Rumbai.
Berbagai
tembang yang dibawakan menjadi hiburan tersendiri bagi seluruh penonton
yang sudah mendekat ke panggung malam tadi dengan iringan berbagai
lagu-lagu hits para pengisi acara.
Keluhkan Konsep Panggung
Pada
seremoni pembukaan Peparnas kemarin, banyak penonton yang mengeluhkan
konsep panggung di tengah-tengah lapangan. Sebab, dengan panggung besar
menghadapi VIP, stage tersebut juga dipasangi backdrop.
Dengan
begitu, maka panggung membuat berbagai pengisi acara yang tampil
memukau, tak dapat dinikmati pengunjung. Setengah dari penonton yang di
belakang panggung jadi tak bisa menyaksikan acara tersebut.
Seperti
dikeluhkan salah seorang penonton, Angga. Mahasiswa salah satu
perguruan swasta di Pekanbaru tersebut tampak kecewa. Karena selain
harus mengitari stadion untuk masuk. Setelah tiba di dalam pun tidak
bisa menikmati pagelaran.
‘’Sudah masuk harus keliling, padahal
ada undangan. Tapi tetap susah untuk bisa ke dalam, eh, sampai di dalam
juga tidak bisa melihat apa-apa,’’ kesalnya sambil berlalu diawal acara
berjalan kemarin.
Hal lain pula dikeluhkan penonton terkait
kurang ramahnya aparat yang menjaga pintu masuk. Sebab, di undangan
sudah tertera gerbang masuk, namun tidak diizinkan masuk ke dalam
stadion.
Alhasil, pada seremoni pembukaan kemarin, banyak
penonton yang berada di belakang panggung memutuskan keluar saat acara
sudah mulai berjalan. ‘’Ngapain di sini, tak bisa lihat apa-apa juga,’’
ungkap salah seorang penonton, Rahmi yang keluar bersama dua anaknya.
Berdasarkan
pantauan Riau Pos malam tadi di lapangan, masih banyak kursi penonton
yang kosong di areal VIP, tepatnya tribun tertutup. Sementara sisi
kiri-kanan tribun dipadati pengunjung.(tim)
Rabu, 10 Oktober 2012
TNI Bersenjata Disiagakan pada Pembukaan Peparnas 2012
Pekanbaru (ANTARA News) - Personel TNI bersenjata laras panjang
disiagakan di Kota Pekanbaru pada hari pembukaan Pekan Paralympic
Nasional (Peparnas) XIV/2012, Minggu.
Personel TNI berseragam loreng banyak terlihat bersiaga di sepanjang jalan protokol seperti di Jalan Sudirman, Pekanbaru, mereka disiagakan sejak pagi dan antara kelompok yang satu dengan yang lain hanya berjarak sekitar 50 meter.
Humas Pemprov Riau Chairul Rizky mengatakan TNI dan Polri disiagakan karena kehadiran tamu-tamu negara. Wakil Presiden (Wapres) RI Boediono dijadwalkan akan hadir pada pembukaan Peparnas XIV di Stadion Kaharuddin Nasution pada Minggu petang.
Selain itu, sejumlah menteri yang hadir pada acara pembukaan juga sudah tiba di Pekanbaru, antara lain Menpora Andi Mallarangeng dan Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri.
Sebelumnya, Pangdam I Bukit Barisan Mayjen Paulus Lodewijk mengatakan sebanyak 2.750 personel TNI dan Polri siap mengamankan kedatangan Wakil Presiden Boediono saat pembukaan Peparnas.
Ribuan personel tersebut akan ditempatkan di sejumlah lokasi yang menjadi pelintasan Wapres, mulai dari Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru hingga lokasi acara di Stadion Kaharuddin Nasution.
"Diharapkan, prajurit yang bertugas dan terlibat pada pengamanan VVIP dapat dengan total untuk segala persiapan," katanya.
Peparnas XIV berlangsung 7-13 Oktober, mempertandingan 11 cabang olahraga yakni atletik, renang, futsal, catur, angkat berat, voli duduk, tenis meja, boling, bulutangkis, panahan dan tenis.
Personel TNI berseragam loreng banyak terlihat bersiaga di sepanjang jalan protokol seperti di Jalan Sudirman, Pekanbaru, mereka disiagakan sejak pagi dan antara kelompok yang satu dengan yang lain hanya berjarak sekitar 50 meter.
Humas Pemprov Riau Chairul Rizky mengatakan TNI dan Polri disiagakan karena kehadiran tamu-tamu negara. Wakil Presiden (Wapres) RI Boediono dijadwalkan akan hadir pada pembukaan Peparnas XIV di Stadion Kaharuddin Nasution pada Minggu petang.
Selain itu, sejumlah menteri yang hadir pada acara pembukaan juga sudah tiba di Pekanbaru, antara lain Menpora Andi Mallarangeng dan Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri.
Sebelumnya, Pangdam I Bukit Barisan Mayjen Paulus Lodewijk mengatakan sebanyak 2.750 personel TNI dan Polri siap mengamankan kedatangan Wakil Presiden Boediono saat pembukaan Peparnas.
Ribuan personel tersebut akan ditempatkan di sejumlah lokasi yang menjadi pelintasan Wapres, mulai dari Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru hingga lokasi acara di Stadion Kaharuddin Nasution.
"Diharapkan, prajurit yang bertugas dan terlibat pada pengamanan VVIP dapat dengan total untuk segala persiapan," katanya.
Peparnas XIV berlangsung 7-13 Oktober, mempertandingan 11 cabang olahraga yakni atletik, renang, futsal, catur, angkat berat, voli duduk, tenis meja, boling, bulutangkis, panahan dan tenis.
Jateng Rebut Dua Emas Panahan Peparnas 2012
Pekanbaru (ANTARA News) - Provinsi Jawa Tengah (Jateng) kembali berhasil
menambah perolehan medali emas di cabang panahan Peparnas 2012 pada
nomor divisi nasional male team arch stand dan divisi nasional male team
arch wilcal (duduk beregu putra).
Dalam cabang olahraga panahan yang digelar di Lapangan Panahan Kampus Universitas Islam Riau (UIR), di Pekanbaru, Rabu, Jateng berhasil mengungguli paralimpian dari daerah lain.
Jateng yang turun di nomor divisi nasional male team arch stand (berdiri beregu putra) memainkan Ponco Wolo, Joko Sutrisno dan Agus Rustanto yang berhasil mengumpulkan nilai dengan total poin yang diperoleh 181.
Kontingen itu berhasil mengalahkan trio Kalimantan Tengah (Kalteng) yang memainkan paralimpian atas nama Yanatar, Suhana dan Susanto dengan hanya mampu mengumpulkan poin 130.
Sementara untuk medali perunggu direbut bersama oleh Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
Dengan nama atlit Abdul Hamid, Riyadi Nugraha dan Zulfajri untuk Kaltim, dan Kalsel atas nama Suranto, Fahrul Azan serta Kurdi.
Sedangkan medali emas kedua pada beregu putra di hari yang sama, juga diraih Jateng dari nomor divisi nasional male team arch wilcal (duduk beregu Putra).
Jateng menurunkan paralimpian atas nama Sutrisno, Sugiyo dan Gusnin Albinzar dengan total skor 138.
Kontingen itu mengalahkan Kaltim yang menurunkan Sukarno, Heri Prasetyawan dan Joko Budi Wibowo dengan hanya mampu memperoleh skor 121.
Dalam cabang olahraga panahan yang digelar di Lapangan Panahan Kampus Universitas Islam Riau (UIR), di Pekanbaru, Rabu, Jateng berhasil mengungguli paralimpian dari daerah lain.
Jateng yang turun di nomor divisi nasional male team arch stand (berdiri beregu putra) memainkan Ponco Wolo, Joko Sutrisno dan Agus Rustanto yang berhasil mengumpulkan nilai dengan total poin yang diperoleh 181.
Kontingen itu berhasil mengalahkan trio Kalimantan Tengah (Kalteng) yang memainkan paralimpian atas nama Yanatar, Suhana dan Susanto dengan hanya mampu mengumpulkan poin 130.
Sementara untuk medali perunggu direbut bersama oleh Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
Dengan nama atlit Abdul Hamid, Riyadi Nugraha dan Zulfajri untuk Kaltim, dan Kalsel atas nama Suranto, Fahrul Azan serta Kurdi.
Sedangkan medali emas kedua pada beregu putra di hari yang sama, juga diraih Jateng dari nomor divisi nasional male team arch wilcal (duduk beregu Putra).
Jateng menurunkan paralimpian atas nama Sutrisno, Sugiyo dan Gusnin Albinzar dengan total skor 138.
Kontingen itu mengalahkan Kaltim yang menurunkan Sukarno, Heri Prasetyawan dan Joko Budi Wibowo dengan hanya mampu memperoleh skor 121.
Panitia: Nyaris Tak Terdengar Keluhan dari Peserta Peparnas
"Sampai hari ketiga Peparnas digelar yakni mulai 7 Oktober, saya nyaris tidak medengar ada komplain."
Panitia pelaksana Pekan Paralympik Nasional (Peparnas) XIV di Riau mengaku hampir tidak mendengar adanya keluhan dan keberatan dari para kontingen seperti pada waktu PON XVIII pada September lalu.
"Hari ini telinga saya agak nyaman. Jadi Insya Allah, sampai hari ketiga Peparnas digelar yakni mulai 7 Oktober, saya nyaris tidak medengar ada komplain," ujar Ketua Umum Peparnas ke-XIV di Riau, Emizal Pakis, di Pekanbaru, Rabu (10/10).
Pihaknya telah mengunjungi salah satu cabang olahraga yang diperlombakan dalam Peparnas yakni ke kolam renang yang berada di Kolam Renang Sport Center Rumbai. Di sana Emizal bertemu dengan kontingen dari Sulawesi Tengah yang sudah berumur, kemudian menanyakan bagaimana perasaannya selama berada di Riau dan dijawab, "selama kami tinggal di hotel, kami mendapatkan makanan yang enak dan pelayanan yang memuaskan."
Meski demikian, pihaknya juga mengadakan pertemuan dalam rapat dengan menghadirkan seluruh kontingen, Selasa, (9/10), dengan mengundang seluruh ketua-ketua kontingen provinsi dan semuanya merasakan pelayanan yang baik.
"Jikapun ada masalah teknis dalam pertandingan. Tapi kalau masalah teknis, itukan sudah ada di Panpel, sudah ada di keabsahan suatu pertandingan. Saya kira bukan masalah yang prinsip, tapi pada pelayanan sampai hari ini berjalan dengan baik," katanya.
Jika dibandingkan dengan pelaksanaan PON XVIII di Riau yang digelar pada 9-20 September 2012, Peparnas memang tidak sebesar pelaksanaan PON baik jumlah kontingen maupun lamanya waktu pelaksanaan.
"Pada PON lalu dia mungkin lebih besar dengan 39 cabang olahraga, kemudian hampir 10 ribu orang dilayani. Artinya seluruh fasilitas digunakan mulai dari hotel yang paling bawah sampai hotel berkelas termasuk rusunnawa, dan asrama atlit," katanya.
Selama PON, banyak komplain yang diterima panitia baik fasilitas, pelayanan, makanan terlambat, membuat telinga panitia disumbati berbagai persoalan "gelap" termasuk juga fasilitas pertandingan yang waktu itu banyak yang dikejar karena mepetnya waktu.
"Dalam perjalanan kami tetap melakukan evaluasi, dua hari dan tiga hari setelah PON dibuka. Memang panitia masih menemukan hambatan, tapi kemudian terus melakukan pembenahan. Tapi kalau Perparnas, dari awal panitia sudah mempersiapkan dengan lebih baik," kata Emrizal.
Peparnas XIV di Riau diikuti 31 provinsi, minus Papua Barat dan Lampung dengan jumlah atlet 1.422 orang dan 733 ofisial yang memperebutkan 1.334 medali, terdiri dari 424 emas, 424 perak dan 486 medali perunggu.
Digelar hanya di satu kota yakni Pekanbaru pada 7-13 Oktober 2012, dan mempertandingkan 11 cabang olahraga (cabor) yakni angkat berat, atletik, bowling, bulu tangkis, catur, futsal, panahan, renang, tenis kursi roda, tenis meja serta volley duduk.
Untuk cabor angkat berat, catur dan tenis meja akan digelar di Hotel Ratu Mayang Garden, kemudian untuk atletik digelar di Stadion Atletik Rumbai, cabor futsal di Hall Basket Sport Centre Rumbai dan renang di Kolam Renang Sport Centre Rumbai.
Boling di Boling Centre Purna MTQ, bulu tangkis di GOR Gelanggang Remaja, cabor panahan di Lapangan Panahan Kampus UIR, tenis meja kursi roda di Lapangan Tenis PTPN V dan untuk volley duduk diadakan di GOR Tribuana.
Panitia pelaksana Pekan Paralympik Nasional (Peparnas) XIV di Riau mengaku hampir tidak mendengar adanya keluhan dan keberatan dari para kontingen seperti pada waktu PON XVIII pada September lalu.
"Hari ini telinga saya agak nyaman. Jadi Insya Allah, sampai hari ketiga Peparnas digelar yakni mulai 7 Oktober, saya nyaris tidak medengar ada komplain," ujar Ketua Umum Peparnas ke-XIV di Riau, Emizal Pakis, di Pekanbaru, Rabu (10/10).
Pihaknya telah mengunjungi salah satu cabang olahraga yang diperlombakan dalam Peparnas yakni ke kolam renang yang berada di Kolam Renang Sport Center Rumbai. Di sana Emizal bertemu dengan kontingen dari Sulawesi Tengah yang sudah berumur, kemudian menanyakan bagaimana perasaannya selama berada di Riau dan dijawab, "selama kami tinggal di hotel, kami mendapatkan makanan yang enak dan pelayanan yang memuaskan."
Meski demikian, pihaknya juga mengadakan pertemuan dalam rapat dengan menghadirkan seluruh kontingen, Selasa, (9/10), dengan mengundang seluruh ketua-ketua kontingen provinsi dan semuanya merasakan pelayanan yang baik.
"Jikapun ada masalah teknis dalam pertandingan. Tapi kalau masalah teknis, itukan sudah ada di Panpel, sudah ada di keabsahan suatu pertandingan. Saya kira bukan masalah yang prinsip, tapi pada pelayanan sampai hari ini berjalan dengan baik," katanya.
Jika dibandingkan dengan pelaksanaan PON XVIII di Riau yang digelar pada 9-20 September 2012, Peparnas memang tidak sebesar pelaksanaan PON baik jumlah kontingen maupun lamanya waktu pelaksanaan.
"Pada PON lalu dia mungkin lebih besar dengan 39 cabang olahraga, kemudian hampir 10 ribu orang dilayani. Artinya seluruh fasilitas digunakan mulai dari hotel yang paling bawah sampai hotel berkelas termasuk rusunnawa, dan asrama atlit," katanya.
Selama PON, banyak komplain yang diterima panitia baik fasilitas, pelayanan, makanan terlambat, membuat telinga panitia disumbati berbagai persoalan "gelap" termasuk juga fasilitas pertandingan yang waktu itu banyak yang dikejar karena mepetnya waktu.
"Dalam perjalanan kami tetap melakukan evaluasi, dua hari dan tiga hari setelah PON dibuka. Memang panitia masih menemukan hambatan, tapi kemudian terus melakukan pembenahan. Tapi kalau Perparnas, dari awal panitia sudah mempersiapkan dengan lebih baik," kata Emrizal.
Peparnas XIV di Riau diikuti 31 provinsi, minus Papua Barat dan Lampung dengan jumlah atlet 1.422 orang dan 733 ofisial yang memperebutkan 1.334 medali, terdiri dari 424 emas, 424 perak dan 486 medali perunggu.
Digelar hanya di satu kota yakni Pekanbaru pada 7-13 Oktober 2012, dan mempertandingkan 11 cabang olahraga (cabor) yakni angkat berat, atletik, bowling, bulu tangkis, catur, futsal, panahan, renang, tenis kursi roda, tenis meja serta volley duduk.
Untuk cabor angkat berat, catur dan tenis meja akan digelar di Hotel Ratu Mayang Garden, kemudian untuk atletik digelar di Stadion Atletik Rumbai, cabor futsal di Hall Basket Sport Centre Rumbai dan renang di Kolam Renang Sport Centre Rumbai.
Boling di Boling Centre Purna MTQ, bulu tangkis di GOR Gelanggang Remaja, cabor panahan di Lapangan Panahan Kampus UIR, tenis meja kursi roda di Lapangan Tenis PTPN V dan untuk volley duduk diadakan di GOR Tribuana.
Penulis: Antara/ Didit Sidarta
Perenang Riau Pecahkan Rekor ASEAN
Syuci telah menunjukan kinerja terbaik karena dapat mengikuti semua program latihan.
Perenang putri Riau Syuci Indriani memecahkan rekor Asia Tenggara dan nasional untuk nomor 200 meter gaya bebas kelas S-14 pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XIV/2012 di Pekanbaru, Riau, Rabu, dengan waktu 2,40.62 menit.
"Kami bangga bahwa Syuci mampu memecahkan rekor Asia Tenggara," kata pelatih NPC renang Riau Asri dihubungi di Pekanbaru, Rabu.
Dia mengatakan, kemenangan Syuci itu merupakan kerja keras selama ini dan menjalani latih rutin di Kolam Renang Aras, Pekanbaru.
Menurut dia, Syuci telah menunjukan kinerja terbaik karena dapat mengikuti semua program latihan. Atas kemenangan itu, Syuci berhak menerima emas, namun untuk medali perak serta perunggu tidak diberikan karena hanya diikuti dua perenang paralimpian itu.
Sedangkan rekor Asia Tenggara itu dipecahkan perenang Sharon W asal Singapura dengan waktu 3,40.50 menit pada 23 Januari 2008.
Selain itu, Syuci juga mampu memecahkan rekor nasional (4,13.67 menit) yang diciptakan perenang lain pada Peparnas 2008 di Kalimantan Timur.
Dalam pertandingan itu Syuci dapat mengalahkan perenang Rahmayana asal Sumatera Selatan dengan waktu 2,55.76 menit. Meski tidak mendapatkan medali tapi perenang paralimpian asal Sumatera Selatan itu juga memecahkan rekor nasional dan Asia Tenggara pada Peparnas 2012.
Perenang putri Riau Syuci Indriani memecahkan rekor Asia Tenggara dan nasional untuk nomor 200 meter gaya bebas kelas S-14 pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XIV/2012 di Pekanbaru, Riau, Rabu, dengan waktu 2,40.62 menit.
"Kami bangga bahwa Syuci mampu memecahkan rekor Asia Tenggara," kata pelatih NPC renang Riau Asri dihubungi di Pekanbaru, Rabu.
Dia mengatakan, kemenangan Syuci itu merupakan kerja keras selama ini dan menjalani latih rutin di Kolam Renang Aras, Pekanbaru.
Menurut dia, Syuci telah menunjukan kinerja terbaik karena dapat mengikuti semua program latihan. Atas kemenangan itu, Syuci berhak menerima emas, namun untuk medali perak serta perunggu tidak diberikan karena hanya diikuti dua perenang paralimpian itu.
Sedangkan rekor Asia Tenggara itu dipecahkan perenang Sharon W asal Singapura dengan waktu 3,40.50 menit pada 23 Januari 2008.
Selain itu, Syuci juga mampu memecahkan rekor nasional (4,13.67 menit) yang diciptakan perenang lain pada Peparnas 2008 di Kalimantan Timur.
Dalam pertandingan itu Syuci dapat mengalahkan perenang Rahmayana asal Sumatera Selatan dengan waktu 2,55.76 menit. Meski tidak mendapatkan medali tapi perenang paralimpian asal Sumatera Selatan itu juga memecahkan rekor nasional dan Asia Tenggara pada Peparnas 2012.
Penulis: Antara/ Yusuf Abdillah
Langganan:
Postingan (Atom)




